Entri Populer

Jumat, 01 Juni 2012

Komparasi Pendidikan Dengan Negara Tetangga


Ilmu pengetahuan merupakan sebuah jalan untuk mempermudah kehidupan umat manusia. Ketika manusia sudah memiliki ilmu pengetahuan maka tingkat kehidupannya pun semakin membaik. Agar seluruh masyarakat memiliki ilmu pengetahuan secara merata, maka dibuatlah sebuah sistem agar ilmu pengetahuan mampu dipelajari dengan mudah. Pendidikan adalah sebuah sistem yang didalamnya terdapat komponen-komponen penunjang dalam usaha mencapai tujuan mencerdaskan masyarakat. Setiap negara memiliki tujuan dan sistem pendidikan yang berbeda sesuai dengan visi dan misi negara mereka. Indonesia merupakan negara yang sangat mementingkan pendidikan, hal ini tertuang dalam Undang-Undang Dasar ’45  yang merupakan pondasi dasar negara ini. 

Kita mampu melihat sejauhmana perkembangan pendidikan di Indonesia jika dibandingkan dengan negara lain dengan melihat aspek-aspek pendidikan yang global. Aspek pendidikan secara global mampu dilihat melalui aspek pendidik, anak didik, alat pendidikan, dan tujuan pendidikan. Indonesia negara yang saat ini menganggarkan 20% APBN nya untuk pendidikan terasa masih sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan proses pembelajaran. Aspek-aspek pendidikan yang akan penulis kaji  merupakan mempunyai tujuan untuk membandingkan tingkat keberhasilan pendidikan di Indonesia dengan negara tetangganya. Untuk mengetahui perbandingan aspek-aspek ini, kita harus mengetahui dahulu pengertian dari masing-masing aspek.
Pendidik adalah orang dewasa yang telah dianggap mampu bertanggung jawab terhadap apa yang diajarkan kepada anak didik. Sedangkan anak didik adalah individu yang butuh bimbingan dan arahan dalam bertingkah laku dari pendidik. Aspek yang lainnya yakni alat pendidikan yang merupakan sarana untuk mencapai tujuan pendidikan yang didalamnya berisi komponen pendidikan yang bersinergi satu sama lain. Sedangkan tujuan pendidikan di setiap negara berbeda-beda sesuai dengan tujuan negara dalam menciptakan generasi penerus bangsa. Bisa dikatakan bahwa tujuan pendidikan adalah mentransformasikan seluruh nilai dan norma serta perkembangan ilmu pengetahuan kepada generasi penerus.

Tujuan penulis membandingkan pendidikan di Indonesia dengan negara lain dapat dikatakan sama seperti pendapat Kendall dan Nicholas Hanc yang dikutip dari  Nur  (2002:4) yang menjelaskan bahwa tujuan perbandingan pendidikan adalah untuk mengetahui prinsip-prinsip apa yang sesungguhnya mendasari pengaturan perkembangan sistem  pendidikan nasional. Indonesia pada tahun 2011 mengalami penurunan peringkat prestasi pendidikannya. Jika di tahun 2010 Indonesia berada pada peringkat 65 dari 127 negara yang disurvei oleh UNESCO, kini pada tahun 2011 Indonesia berada pada urutan 69. Hal ini sungguh menyesakkan bagi kita masyarakat Indonesia yang telah dianggarkan 20% dari total APBN  untuk pendidikan. Penilaian UNESCO terkait aspek-aspek angka partisipasi pendidikan dasar, angka melek huruf pada anak usia 15 tahun ke atas, angka partisipasi menurut kesetaraan jender, dan angka bertahan siswa hingga kelas V sekolah dasar.

Bila melihat aspek diatas, maka wajarlah bila Indonesia masing dianggap sebagai negara yang jauh dari negara Jepang yang pada survei pada saat itu  menjadi negara  peringkat pertama dalam kualitas pendidikan. Indonesia memang masih lebih baik dari  negara tetangga yakni, Filipina, Kamboja, dan Laos. Tetapi bagaimana dengan negara tetangga yang lain yang berada dalam satu wilayah Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Ketiga negara tersebut berada jauh diatas Indonesia dalam hal pendidikan. 

Aspek penilaian UNESCO memang berkaitan dengan aspek-aspek yang penulis sebutkan sebelumnya. Tenaga pendidik di Indonesia masih jauh dari kata profesional, masih banyak guru yang mengajar tidak pada kompetensinya dan bahkan mengajar lebih dari satu pelajaran atau berpindah tempat mengajar dari satu sekolah ke sekolah lain hanya untuk mencukupi kebutuhan ekonominya. Guru di Indonesia masih sangat minim akan penguasaan metode pembelajaran. Sikapnya yang otoriter seringkali membuat siswa menjadi kaku dan tidak berkembang. Belum lagi masih banyak guru di Indonesia yang hanya mengenyam jenjang pendidikan Sekolah Keguruan dan bukan lulusan dari universitas ilmu keguruan.
Negara-negara tetangga yang berada jauh diatas Indonesia dalam peringkat pendidikan, tingkat perekonomian mereka sangat baik sehingga tenaga pendidik tidak perlu resah dan bekerja secara profesional dalam usaha mencerdaskan anak didik. Jenjang pendidikan yang sudah selayaknya bagi seorang guru dan  sikap profesional dengan hanya mengajarkan mata pelajaran yang ia kuasai ditambah dengan penguasaan metode pembelajaran, mampu menciptakan suasana pendidikan yang baik. Namun saat ini Indonesia sedang berbenah mencarikan solusi untuk meningkatkan mutu guru dengan program sertifikasi dan macam-macam pelatihan guna menciptakan guru yang berkualitas baik.

Anak didik adalah individu yang unik dan membutuhkan bimbingan dan arahan dari para pendidik guna mencapai kedewasaannya. Setiap anak didik yang ada di Indonesia sejatinya terlahir dengan bakat yang dibawanya masing-masing. Akan tetapi, bangsa Indonesia belum mampu mewadahi potensi-potensi anak didik. Pendidikan masih sangat mahal bagi rakyat Indonesia, sehingga membuat banyak potensi anak didik tidak berkembang sebagaimana seharusnya. Sistem pendidikan di Indonesia masih banyak berpatokan pada hasil daripada prosesnya.

Hal ini tanpa kita sadari membuat anak didik hanya terfokus pada aspek kognitif dalam tujuannya sebagai siswa di sekolah. Guru di sekolah pun bersikap sebagaimana robot yang selalu mematuhi aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Sikap tenaga pengajar seperti hanya mementingkan bagaimana upaya mereka secepat mungkin dalam  penyampaian materi kepada siswa tanpa memperhatikan kembali daya nalar dan pemahaman siswa itu sendiri terhadap materi ajar.

Ironis memang ketika Ujian Nasional (UN) dijadikan sebagai patokan kelulusan siswa dalam penguasaan materi pada jenjang pendidikan tertentu tanpa mengindahkan aspek lainnya, yang bisa juga dinilai sebagai bahan pertimbangan oleh tenaga pendidik. Sistem pembelajaran seperti ini membuat siswa sulit berkembang dalam usahanya menjadi manusia seutuhnya sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Berbeda dengan negara tetangga yang sudah lebih tertata dalam upaya mewadahi bakat siswa. Malaysia misalnya, pada jenjang Lower secondary education (Sekolah Menengah Pertama jika di Indonesia), sudah dipetakan para siswanya untuk mengetahui bakat dan minat siswa pada jurusan sain, seni, teknik atau vokasional. Dengan cara ini, Malaysia telah mampu membuat peringkat pendidikannya di mata dunia lebih baik dengan tentunya masih banyak aspek lain sebagai faktor-faktor pendukung.

Selanjutnya berbicara mengenai alat pendidikan. Alat pendidikan disini tidak hanya berupa fasilitas sekolah seperti ruang kelas, meja, kursi, dsb. Yang akan kita sebut sebagai alat pendidikan di lapangan, sedangkan kurikulum, silabus, dan rencapa pelaksanaan pembelajaran (RPP) juga merupakan alat pendidikan yang akan kita sebut sebagai alat pendidikan di luar lapangan. Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa kurikulum pada setiap negara berbeda dan biasanya mengikuti keinginan negara masing-masing dengan acuan prospek jangka pendek dan jangka panjang. Di Indonesia, fasilitas di lapangan sangat minim dari ideal yang diharapkan. Banyak sekali sekolah-sekolah dalam kondisi rusak dan tak layak pakai hingga fasilitas penunjang lainnya. Bila kita cermati negara Singapura, sekolah mereka telah berada dalam keadaan yang sangat baik sehingga siswa dan guru pun menjadi lebih termotivasi dalam proses pembelajaran. 

Kurikulum di negara tetangga Malaysia menciptakan pembagian sekolah hampir sama dengan di Indonesia. Terdapat sekolah kejuruan, sekolah umum, dan sekolah keagamaan hingga tingkat universitas. Akan tetapi terdapat perbedaan diantara keduanya. Sistem pendidikan Indonesia menjadikan UN sebagai tolak ukur kelulusan dan jika ingin masuk ke jenjang berikutnya masih terdapat tes lagi, tetapi di Malaysia pada setiap jenjang pendidikan tidak menjadikan UN sebagai tolak ukur dan hanya sebagai uji kemampuan. Malaysia membuat jenjang pendidikan yang lebih tinggi memantau siswa di jenjang sekolah yang lebih rendah untuk calon siswanya. Tentunya pemantauan ini terkait dengan kebutuhan sekolah yang akan merekrutnya sesuai dengan minat dan bakat siswa itu sendiri.

Oleh karena banyak siswa di Malaysia melakukan yang terbaik dalam seluruh aspek pendidikan demi mendapatkan sekolah yang terbaik di jenjang pendidikan selanjutnya. Indonesia dengan penerapan UN sebagai tolak ukur kelulusan dan terdapat tes lagi untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi membuat banyak siswanya menjadi letih dan menekan mental. Ini telah terbukti banyak membuat siswa berprestasi pun bisa gagal untuk menempuh sekolah impian selanjutnya.

Tujuan pendidikan Indonesia menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Setiap negara pasti memiliki tujuan pendidikan yang berbeda baik secara terang atau pun tersembunyi. Akan tetapi yang terpenting adalah bagaimana mencapai tujuan itu sendiri dengan bantuan ketiga aspek lainnya.

Sebuah dilema pendidikan di Indonesia muncul ketika tujuan pendidikan yang sudah dicanangkan secara luhur tetapi tidak dapat didukung oleh faktor-faktor lain yang seharusnya menopangnya. Seperti yang penulis sebutkan diatas bahwa aspek pendidik, anak didik, dan alat pendidikan merupakan jalan untuk pencapaian tujuan harusnya berada dalam kondisi yang baik. Bila kondisi tiga aspek pendidikan ini telah berada dalam kondisi yang baik, maka tujuan pendidikan pun sangat mudah diraih. Indonesia dengan banyaknya jumlah penduduk dan kasus korupsi yang sangat besar menggerogoti tiga aspek pendorong pencapaian tujuan pendidikan. Bagaimana mungkin tujuan bisa terlaksana dengan baik bila penopang tujuan tidak dibangun dalam kondisi baik.

Bila dibandingkan dengan negara tetangga, mereka mempunyai tujuan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan negaranya. Namun, seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa ketiga aspek pendidikan mereka sangat mendukung dalam menopang tujuan pendidikan. Jika hal ini terus berlanjut tanpa ada daya kreatifitas dari guru dan pihak sekolah hingga pemerintah, maka bukan tidak mungkin Indonesia akan semakin turun peringkatnya dalam tatanan sistem pendidikan dunia.

1 komentar: