Entri Populer

Sabtu, 04 Juni 2011

MAKALAH SOSIOLOGI ORGANISASI ORGANISASI KARANG TARUNA (Studi Kasus : Karang Taruna Pondok Ungu Permai RW 026)

Bab I
Pendahuluan

1.1 Latar Belakang


Organisasi merupakan kumpulan individu dalam suatu wadah untuk menyalurkan aspirasi dan mengasah kreativitas dalam bersosialisasi. Menurut Robbins, organisasi sebagai kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi yang bekerja atas dasar yang relatif terus-menerus untuk mencapai tujuan bersama. Dari definisi tersebut menyatakan bahwa organisasi terbentuk dari kesadaran masing-masing individu yang ingin membentuk sebuah kelompok agar mempermudah dalam pencapaian tujuan bersama. Hal ini membuktikan bahwa manusia sebagai makhluk sosial yang selalu membutuhkan kehadiran dari manusia lain. Golongan muda sering disebut sebagai golongan masyarakat yang mempunyai tenaga dan semangat yang besar dalam berbagai hal. Namun, jika tenaga dan semangat yang besar itu tidak diaplikasikan kedalam bentuk kegiatan yang baik maka hanya akan terbuang percuma. Penulis ingin mengangkat tema mengenai organisasi karang taruna yang merupakan wadah bagi para golongan muda untuk dapat menyalurkan tenaga, semangat, dan kreatifitasnya dengan sempurna. Seringkali banyak golongan muda yang tidak tahu harus berbuat apa dalam hidupnya karena kurangnya pengalaman. Dari sini karang taruna juga mampu dijadikan sebagai wadah pembinaan bagi kaum muda yang masih labil dalam menjalani hidup.


1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan di atas, maka kami merumuskan masalah kedalam beberapa pertanyaan yaitu :
1. Apa pengertian dari organisasi ?
2. Bagaimana sejarah organisasi karang taruna RW 026 ?
3. Bagaimana struktur organisasi karang taruna RW 026 ?
4. Apa faktor pendorong dan penghambat yang dihadapi dari organisasi karang taruna RW 026 ?

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan pemahaman terhadap pembaca atau orang lain mengenai organisasi terutama organisasi karang taruna yang menjadi studi kasus dari penulis.


Bab II
Pembahasan

2.1 Pengertian Organisasi


Untuk dapat memahami organisasi, kita harus mengetahui terlebih dahulu beberapa teori dari beberapa tokoh. Pertama, menurut Michele Handel, organisasi adalah kelompok yang diorganisasikan dengan sengaja, dimana kelompok tersebut memiliki tujuan yang nyata dan spesifik, didesain untuk hidup lebih lama dari individu, memiliki seperangkat aturan formal, dan secara relatif organisasi mempunyai struktur kekuasaan, peran dan tanggung jawab yang bebas dari karakteristik personal tertentu. Kemudian yang kedua, menurut Robbins organisasi adalah kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi yang bekerja atas dasar yang relatif terus-menerus untuk mencapai tujuan bersama Jadi, secara umum organisasi adalah suatu wadah yang berisikan kumpulan individu yang memiliki visi, misi, dan tujuan bersama.

2.2 Sejarah Terbentuknya Organisasi Karang Taruna RW 026

Bermula dari kelompok pertemanan anak-anak yang tumbuh hingga menjadi remaja bersama di dalam sebuah komplek perumahan karang taruna RW 026 terbentuk. Keinginan bersama untuk dapat menunjukkan eksistensi sebagai kelompok dalam bentuk yang positif, membuat mereka memutuskan untuk membentuk sebuah organisasi yang diberi nama karang taruna RW 026. Setelah dibentuk atas keputusan bersama dan mendapat persetujuan ketua RW setempat, maka dibentuklah badan pengurus harian dan struktur organisasi ini dengan mendapat bimbingan dari ketua RW setempat. Sesuai dengan keinginan dan cita-cita untuk menunjukkan eksistensinya, hal yang pertama kami lakukan adalah dengan mengadakan acara menyambut HUT RI yang kebetulan waktunya adalah sebulan setelah terbentuknya organisasi ini. Dari kesuksesan acara yang kami rencanakan tersebut, organisasi ini terus berkiprah hingga sekarang membantu masyarakat sekitar dalam berbagai hal seperti membantu acara hajatan, pernikahan, dan sebagainya.

2.3 Deskripsi lokasi

Lokasi dari tempat karang taruna RW 026 adalah di perumahan Pondok Ungu Permai. Dalam satu RW ini terdapat 6 RT yang terbagi-bagi dalam berbagai blok, yakni blok MM, NN, dan OO. Perumahan ini terletak di Bekasi Utara, sudah banyak angkutan yang bisa digunakan untuk menuju ke lokasi. Jika dari terminal PuloGadung dapat naik angkutan umum KWK 31, jika dari terminal Bekasi anda bisa naik KWK 15A.

2.4 Visi dan Misi Organisasi Karang Taruna RW 026

Organisasi yang terbentuk atas keinginan bersama tentunya mempunyai pandangan dan cita-cita bersama. Oleh karena itu, penulis ingin menjelaskan visi dan misi dari organisasi karang taruna RW 026 yang menjadi studi kasus. Organisasi ini memiliki visi kreatifitas, jauh dari narkoba, taqwa, dan semangat yang tinggi dalam berbuat kebaikan. Kemudian misinya adalah menjadikan pemuda-pemudi dilingkungan RW 026 menjadi lebih mempunyai pengalaman dalam berorganisasi dan mempererat silaturahmi diantara mereka serta membantu masyarakat yang membutuhkan tenaga dan kreatifitas golongan muda. Visi dan misi dari organisasi ini sudah terealisasikan karena mereka benar-benar menjadikan citra pemuda-pemudi sebagai bagian dari masyarakat yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.

Dari Bentuk struktur sederhana yang dibuat oleh badan kepengurusan organisasi karang taruna RW 026, dapat kita lihat masih terbilang sangat minimalis. Anggota dari organisasi ini hamper 80% adalah teman sepermainan sejak kecil hingga dewasa saat ini dan bertempat tinggal di RW 026. Organisasi ini juga tidak melarang orang lain selain warga RW 026 untuk ikut berpartisipasi di dalamnya. Oleh karena itu, karang taruna RW 026 melakukan sistem open recruitmen yang ditujukan untuk golongan muda yang mau berbagi dan mencari pengalaman baru disana. Tidak ada persyaratan khusus untuk dapat bergabung dalam organisasi kepemudaan ini. Hingga tahun 2011 ini, total seluruh anggotanya berjumlah kurang lebih 77 orang. Hasil total anggota ini merupakan jumlah anggota aktif dan pasif, dengan jumlah laki-laki 40 orang dan perempuan 37 orang.

Bab III
Karang Taruna dalam Teori Organisasi


3.1 Teori Budaya Organisasi
Dalam menganalisa sebuah organisasi, kita juga membutuhkan teori untuk melihat secara mendalam pola-pola kerja yang terdapat dalam sebuah organisasi. Pada organisasi karang taruna RW 026, penulis akan mencoba menjabarkan dan mengkaitkan hubungan antara salah satu teori organisasi yakni teori budaya organisasi dengan organisasi karang taruna. Sebelum membahasa lebih jauh keterkaitan diantara keduanya, penulis akan lebih dahulu menjelaskan mengenai teori budaya organisasi. Gagliardi menyatakan bahwa budaya organisasi dapat di-manage dan dikendalikan. Argumentasi yang digunakan adalah bahwa budaya organisasi merupakan komponen illusive yang menyatu dalam diri setiap orang pada dataran yang paling mendasar (alam bawah sadar), sehingga untuk merubah budaya organisasi membutuhkan pengetahuan yang mendalam tentang bagaimana alam bawah sadar terbentuk dan berfungsi serta memungkinkan akan menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan.
Budaya organisasi yang terdapat pada karang taruna memang tidak seluruhnya tertulis, namun telah menjadi sebuah ikatan yang menjadi tolak ukur dalam berprilaku. Terdapat beberapa indikator dalam budaya organisasi diantaranya, pertama adalah kreatifitas masing-masing individu dalam menjalani kehidupannya, mereka berhak mengikuti organisasi lain asalkan tetap bertanggungjawab terhadap ketentuan organisasi. Kedua, adanya sikap toleran diantara anggota bila salah satu anggotanya melakukan kesalahan dalam berupaya melakukan sebuah inovasi. Ketiga kepemilikan hak dan kewajiban yang sama dalam berorganisasi. Terakhir yang keempat adalah adanya sistem penghargaan bagi anggota yang baik dalam mengikuti aturan dan tugas dan sangsi bagi anggota yang lalai dalam mengikuti aturan dan tugasnya.




3.2 Analisis Organisasi Karang Taruna dengan Teori Budaya Organisasi
Organisasi karang taruna RW 026 merupakan sebuah wadah yang dipelopori oleh ketua RW setmpat pada saat itu. Ketua RW sangatlah berperan besar dalam menjaga eksistensi organisasi ini dimana beliaulah yang memberikan tata cara dalam menjalankan sebuah organisasi agar dapat bermanfaat untuk masyarakat sekitarnya. Wadah untuk berkumpulnya dan menuangkan kreatifitas, tenaga dan semangat golongan muda kearah yang positif mampu membuat anggota mendapat pengalaman dan menjadi seorang yang mampu bersosialisasi dengan baik sehingga tidak ada jarak antara kaum muda dan kaum tua. Organisasi ini juga mampu membina anggotanya agar menjauhi narkoba yang menjadi momok menakutkan bagi para orang tua yang memiliki anak beranjak dewasa (remaja) yang rentan terhadap penyalahgunaan narkoba tersebut. Melalui beberapa kegiatan bimbingan dan penyuluhan terhadap anggotanya serta memperbanyak kegiatan yang mereka sukai sesuai minat dan bakat seperti festival kesenian dan bazaar membuat mereka tidak menyianyiakan waktu dalam usia produktif mereka.
Sikap saling menghargai dan toleran serta bimbingan dari para ketua RW dan RT setempat mampu menciptakan sebuah budaya yang diwariskan oleh mereka tentang seperti bagaimana cara sopan santun terhadap orang tua dalam mengikuti rapat ketika memberikan pendapat dan cara-cara mendapatkan keuntungan dari mengikuti organisasi ini. Jelas, pada awal mula terbentuknya karang taruna ini memang tidak sama sekali memikirkan keuntungan tetapi hanya bagaimana cara agar golongan muda ini mampu dilihat oleh masyarakat sebagai golongan yang berguna bagi masyarakat. Sistem demokrasi yang seakan telah tertanam dalam hati dan pikiran masing-masing anggota membuat organisasi ini makin kaya akan budaya. Aturan-aturan sering berubah mengikuti perubahan menyesuaikan situasi dan kondisi masyarakat, seperti tidak diadakan rapat mingguan jika sedang waktu-waktu ujian sekolah atau kuliah.
Berbagai simbol dan karakter pun dibentuk disini, melalui pembuatan lambang organisasi hingga pembuatan kaos dan jaket untuk menandakan kekompakan dan kecintaan anggota terhadap organisasinya. Sistem pemilihan dan perekrutan anggota dan ketua telah melalui tahap sistem demokrasi dimana setiap ada anggota baru maka suara anggota diperlukan begitu juga terhadap pemilihan ketua yang dilakukan setiap 2 tahun sekali. Dari penjabaran diatas dapat ditarik sebuah alur terciptanya atau pewarisan budaya organisasi yang berawal dari para tokoh masyarakat yang memberikan dasar dan landasan berorganisasi. Kemudian diteruskan dengan terciptanya visi dan misi yang telah disepakati bersama dengan hal ini menjadikannya sebagai sebagai nilai dan norma dalam melakukan berbagai kegiatan di karang taruna. Sikap keterbukaan sesama anggota dan para pengurus merupakan sebuah cerminan interaksi yang terjalin dalam organisasi ini berjalan dengan baik.

3.3 Faktor Pendorong dan Penghambat bagi Karang Taruna

Dalam membangun sebuah organisasi tentunya tidak semudah yang dibayangkan. Terdapat kemudahan untuk mengembangkannya, namun terdapat pula kelemahan yang mampu membuat organisasi ini sulit berkembang. Berikut adalah pengalaman penulis yang juga merupakan anggota karang taruna RW 026 . Faktor penghambatan dari berkembangnya organisasi ini adalah sulitnya mendapatkan anggota baru dan kekuatan ekonomi. Seperti kita tahu, bahwa kaum muda pada saat ini banyak yang sudah tidak peduli lagi terhadap lingkungan sekitar bahkan mungkin dengan tetangganya saja sudah acuh tak acuh. Rasa individualis membuat mereka seolah tidak membutuhkan orang lain dalam kehidupannya. Hal ini membuat sulitnya kaum muda dari RT atau RW tetangga untuk bergabung dalam organisasi dan bekerja sama jika mereka sudah mempunyai organisasi serupa. Kemudian tidak adanya keuntungan material jika mengikuti organisasi ini juga menjadi faktor kaum muda enggang bergabung. Banyak diantara mereka yang menganggap mengikuti karang taruna hanyalah membuang waktu dan tidak menghasilkan (uang). Memang, sepanjang keaktifan penulis hingga saat ini di karang taruna RW 026 tidak mendapatkan keuntungan materi secara langsung. Namun perlu diperhatikan oleh kaum muda bahwa, kegiatan yang dilakukan oleh karang taruna semua bersifat sosial dan jika mendapatkan sejumlah dana itu merupakan dana sukarela dari masyarakat setempat yang merasa terbantu dan dana itu kami gunakan untuk keperluan eksistensi organisasi dan rekreasi serta alat untuk menunjang kreatifitas kami. Faktor pendorong organisasi ini adalah sikap peduli golongan tua atau para tokoh masyarakat dan masyarakat sendiri yang member respon positif terhadap organisasi sehingga mendapatkan wejangan dan arahan agar organisasi ini tetap utuh dan kompak serta mampu melahirkan kreatifitas yang tinggi.

Creator By me..
Refrensi thx to Kelompok Bayu P.Sos dalam Kuliah SORGA dan M.Azdi...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar